Menteri Kesehatan RI, yang baru saja diangkat
sejak 27 Oktober 1914 kemarin, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K)
berharap harga jual rokok di Indonesia dinaikkan untuk mencegah bertambahnya
jumlah perokok. Sebab, bertambahnya jumlah perokok, tidak saja membahayakan
kesehatan diri pribadi, namun juga orang lain.
Usai membuka acara peringatan emas Hari Kesehatan
Nasional (HKN), 16 November 2014. Nila menyebut, hasil kenaikan penjualan
rokok, bisa digunakan untuk memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik ke
masyarakat.
"Namun, untuk bisa merealisasikan hal
itu, tentu kami perlu menjalin koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan sudah
kami sampaikan. Kemenkeu kini tengah mengurus anggarannya secara
nasional," ungkap dokter spesialis mata tersebut, dilansir dari VivaNews.
Selain menaikkan harga rokok, Nila juga
berharap jumlah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ditambah, tidak hanya di Jakarta
tetapi di seluruh area di Indonesia. Namun, dia menginginkan tanpa adanya
aturan tersebut, masyarakat di Indonesia mulai sadar untuk berhenti
merokok.
"Yang terpenting itu, harus ada kesadaran
dari diri sendiri untuk berhenti merokok. Sebab, kalau di KTR, mereka tetap
masih bisa di luar area itu dan di udara terbuka pula. Kalau dimulai dari diri
sendiri, artinya tanpa diminta pun, mereka sudah menyadari kalau merokok itu
tidak baik untuk kesehatan," imbuh dia, dilansir dari VivaNews.
Kemenkes mengajak warga di seluruh Indonesia
untuk melakukan cap lima jari tangan sebagai bentuk dukungan terhadap komitmen
tidak merokok. Kegiatan pengumpulan cap lima jari tangan tersebut telah dimulai
sejak tanggal 9 November hingga 16 November 2014. Kini, total sudah
terkumpul 75 ribu cap lima jari tangan. Atas aksi tersebut, Museum Rekor Dunia
Indonesia (MURI) memasukkannya sebagai pencatatan rekor terbanyak untuk
komitmen tidak merokok. (ubes)
0 comments:
Post a Comment